Diakui 138 Negara Dunia, Kemenlu Diminta Desak AS dan Uni Eropa Dukung Kemerdekaan Palestina

Spread the love
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPN Partai Gelora Indonesia Henwira Halim.

JakCityNews (Jakarta) – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menilai dukungan 138 negara di dunia atas kemerdekaan Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat, tidak lagi di bawah kendali Israel saat ini, harus bisa dimanfaatkan secara maksimal Indonesia.

Menurut Henwira Halim, Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPN Partai Gelora Indonesia di Jakarta, Rabu (19/5/2021), Indonesia bisa meningkatkan peran diplomasinya dengan melobi ‘goverment to goverment’ dan ‘people to people’  ke 138 negara tersebut. Terutama negara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Henwira Halim berharap Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mampu mendesak AS dan Uni Eropa, serta  negara di dunia lainnya melalui ‘government to government’  dan menarik simpati masyarakatnya ‘people to people.

“Kita merdeka juga karena ada tekanan internasional kepada Belanda, harus ada diplomasi mengajak negara lain. Tetapi people to peolpe juga penting supaya nyambung agar AS dan Uni Eropa mengajak warganya sendiri untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Ini bisa difaslitasi kedutaan,” ujar Henwira.

Baca juga :

Henwira mengungkapkan saat ini sudah ada 138 negara atau 70 persen negara di dunia yang mengakui kemerdekaan Palestina. Tetapi dia mempertanyakan  AS tetap mempertahankan Israel dan menolak kemerdekaan Palestina.

Menurut Henwira,  selama AS masih mem-backup penuh Israel, maka akan dibutuhkan upaya lebih besar untuk memerdekakan Palestina dari penjajahan negara Yahudi itu.

“Jadi selama AS terus membacking Israel, maka semakin rumit dan dibutuhkan effort (upaya) yang besar untuk mencapai kemerdekaan Palestina,” ungkapnya.

Ditegaskan Henwira, untuk membentuk sebuah negara merdeka dan berdaulat, kata Henwira, diperlukan empat syarat, yakni populasi, wilayah, pemerintahan dan pengakuan. Namun, karena pertarungan kepentingan geopolitik global, kemerdekaan Palestina terus terganjal, meski 70 persen negara di dunia sudah memberikan dukungan. 

“Sebab, Amerika Serikat dan sebagian negara Barat ingin mempertahankan pengaruhya di Timur Tengah (Timteng) dengan memberikan dukungan kepada Israel, ” katanya.

Dukungan kepada Israel tersebut, lanjut Henwira yakni untuk mempertahankkan  pengaruh mereka baik secara politik, keamanan, investasi dan upaya melakukan eksplorasi dalam mendapatkan sumber daya alam baru.

“Palestina ini korban politik geopolitik global. Warga Palestina yang jadi korban kolateral (agunan) geopolitik, sehingga Amerika ragu-ragu mengutuk Israel, apalagi mengambil tindakan tegas,” katanya. (Bag)