Media Italia dan Spanyol Cium ‘Aroma Amis’, UEFA Jadikan Inggris Juara Piala Eropa 2020

Spread the love
Tim Inggris.

JakCityNews (Eropa) – Beberapa media seperti La Gazzetta dello Sport dan Marca, telah mencium ‘aroma ‘amis, terkait usaha UEFA menjadikan Inggris juara Piala Eropa 2020, sebagai hadiah. Aroma tidak sedap itu muncul jelang partai final antara Italia dan Inggris di Stadion Wembley, London, Senin (12/7/21) dini hari WIB.

Surat kabar asal Italia, La Gazetta dello Sport menyatakan adanya Konspirasi dari UEFA untuk menjadikan Inggris sebagai juara Piala Eropa 2020. Hal itu sebagai ‘hadiah’ kepada pihak pemerintah Inggris yang akhirnya memberikan dukungan kepada UEFA, terkait pembentukan European Super League (ESL). Untuk diketahui, ESL merupakan ajang yang digadang-gadang menjadi sebuah turnamen ‘tandingan’ Liga Champions, bentukan UEFA.

ESL merupakan sebuah turnamen yang pertama kali beranggotakan ketiga klub raksasa Eropa, yakni Real Madrid, Juventus, dan Barcelona untuk memenuhi keinginan para pebisnis. Klub-klub raksasa Inggris, seperti Liverpool, Manchester United (MU), Manchester City, Arsenal, Chelsea, dan Tottenham Hotspur kemudian memutuskan untuk bergabung dan diikuti klub-klub lainnya, seperti AC Milan, Inter Milan, dan Atletico Madrid.

Baca juga :

Namun Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid bersikeras untuk menyatakan dukungan mereka terhadap UEFA pada April lalu. Tidak lama setelah itu keenam klub raksasa Inggris, yakni Liverpool, MU, Manchester City, Arsenal, dan Chelsea, dan Tottenham mundur dari ESL. Langkah ‘The Big Six’ Liga Primer Inggris itu, rupanya turut mempengaruhi AC Milan, Inter Milan, dan Atletico yang juga memutuskan mundur dari ESL.

“Turnamen Piala Eropa terkesan diselenggarakan dan diatur untuk Inggris. Tidak mengherankan penalti yang sangat murah hati, memuluskan tim Gareth Southgate menuju final pertama mereka setelah 55 tahun,” tulis La Gazzetta dello Sport yang kemudian menulis gelar juara Piala Eropa 2020 untuk Inggris merupakan balasan yang setimpal dari UEFA atas dukungan yang diberikan Boris Johnson.

Penalti ‘murah hati’ yang dimaksud La Gazzetta dello Sport terjadi saat Inggris melawan Denmark di babak semifinal. Saat itu, Inggris menang 2-1 atas Denmark setelah wasit Danny Makkelie memberi penalti kontroversi. Padahal, dalam tayangan VAR, Raheem Sterling terlihat melakukan ‘diving’. Bukan hanya La Gazzetta dello Sport, media Spanyol, Marca juga, menganggap sepak bola Inggris ‘bermuka dua’.

“Sepak bola Inggris selalu mengatakan betapa buruknya ketika seorang pemain mencoba menipu wasit dengan ‘diving’. Dalam sepak bola Inggris hal ini tidak terjadi, selain tentu saja di semifinal Piala Eropa. Akan menyenangkan bagi sepak bola Inggris untuk berhenti memberikan kuliah ke seluruh benua tentang diving,” tulis Marca. (nuj)