{"id":1849,"date":"2022-02-16T10:48:05","date_gmt":"2022-02-16T10:48:05","guid":{"rendered":"https:\/\/jakcitynews.com\/?p=1849"},"modified":"2022-02-16T10:49:56","modified_gmt":"2022-02-16T10:49:56","slug":"di-beranda-istana-alhambra-26-pengajian-diaspora-muslim-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/2022\/02\/16\/di-beranda-istana-alhambra-26-pengajian-diaspora-muslim-indonesia\/internasional\/1849\/","title":{"rendered":"Di Beranda Istana Alhambra (26 \u2013 Pengajian Diaspora Muslim Indonesia)"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"657\" src=\"https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/pengajian-1024x657.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1850\" srcset=\"https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/pengajian-1024x657.jpg 1024w, https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/pengajian-300x193.jpg 300w, https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/pengajian-768x493.jpg 768w, https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/pengajian.jpg 1200w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption>Istockphoto<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image is-style-rounded\"><figure class=\"alignleft size-full\"><img loading=\"lazy\" width=\"328\" height=\"328\" src=\"https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/foto-dubes-2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1851\" srcset=\"https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/foto-dubes-2.jpg 328w, https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/foto-dubes-2-300x300.jpg 300w, https:\/\/jakcitynews.com\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/foto-dubes-2-150x150.jpg 150w\" sizes=\"(max-width: 328px) 100vw, 328px\" \/><figcaption>Posted by Dr. Muhammad Najib <\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Gagasanku untuk mengembangkan Diaspora Muslim Indonesia (DMI), mulai mendapatkan sambutan dari berbagai diaspora Indonesia, terutama yang berada di Eropa dan negara-negara kawasan Afrika Utara. Selain itu, gagasan ini yang juga dimaksudkan untuk menjadikan Islam sebagai gerakkan Ilmu mendapatkan dukungan, terutama dari Jerman.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesempatan ini Aku manfaatkan untuk mencari sejumlah jawaban mengapa Ummat Islam di Kawasan Afrika Utara, khususnya di wilayah Maroko saat ini tidak mewarisi kemajuan peradaban Islam yang dibangun di wilayah Andalusia oleh Dinasti Bani Umayyah.  Padahal pasca Dinasti Umayyah, Andalusia pernah dikendalikan oleh Dinasti Al Murabitun dan Dinasti Almuwahidun yang berpusat di Marakesh, Maroko, dalam rentang waktu yang Panjang.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengusulkan kepada Rokib yang memimpin DMI di Jerman dan menekuni kitab-kita klasik untuk menjadi pembicara, sementara forumnya dibuat dialog dalam bentuk tanya-jawab, dengan tema: \u201cMengapa Ummat Islam Tertinggal, melalui Kajian Kitab-kitab Klasik\u201d. Rokib setuju, kemudian dibuatlah flyer yang di-share ke seluruh aktifis DMI di Kawasan Eropa dan Afrika Utara.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada Minggu pagi sesuai jadwal yang ditentukan Aku memulai dengan memberikan pengantar, sebagai berikut: Seorang Ulama kelahiran Tus yang kini masuk wilayah Iran, pada Abad ke-11 M, yang terkenal dengan panggilan akrabnya Imam Al Ghazali, menulis sebuah buku yang sangat terkenal berjudul: Ihya Ululum Al Din atau Ihya Ulumuddin, yang menurut sejumlah ulama menyimpulkan kejumudan yang dialami oleh Ummat Islam selama berabad-abad, tidak bisa dilepaskan dari buku ini yang terbukti terus dibaca sampai saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Bila merujuk pada karya Al-Ghazali yang lain berjudul:&nbsp;<em>Tahafut Al-Falasifah<\/em>&nbsp;(Kerancuan Filsafat), menunjukkan ia sedang berpolemik dengan Ulama lain bernama Ibnu Sina yang disamping ahli ilmu agama juga sangat terkenal dalam ilmu kedokteran. Al Farabi merupakan Ulama yang juga dikritisi oleh Ibnu Shina. Akan tetapi Alghazali dikritik balik oleh Ibnu Rush melalui bukunya yang berjudul <em>Tahafut al-Tahafut<\/em> (Kerancuan di Atas Kerancuan).<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cBagaimana kita mendudukkan masalah ini?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cPertama, kita harus melebarkan dada kita untuk menerima kenyataan bahwa perbedaan itu adalah bagian dari Sunnatullah. Kita lahir dari Ibu yang berbeda, di tempat yang berbeda, dan dibesarkan di lembagap pendidikan yang berbeda, disamping lingkungan dan pengalaman pribadi yang berbeda. Kedua, coba tempatkan perbedaan diantara para ulama secara rasional dan proporsional.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cMaksudnya?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cUlama adalah manusia juga, tidak ada yang seratus persen benar dan seratus persen salah. Dalam kebenaran mereka terdapat kekurangan, dan dalam kekurangan mereka terdapat kebenaran. Jadi kalau kita mengikuti dengan kacamata positif, maka kita akan menemukan di dalam perdebatan itu, maka&nbsp; satu dengan lainnya sebenarnya dalam proses saling melengkapi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cBagimana mengetahui kelebihan dan kekurangan pendapat atau pemikiran masing-masing?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cDi sinilah pentingnya ilmu, kajian, dan pendalaman. Bagi mereka yang tekun maka mereka akan menemukannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cCara lain, khususnya bagi masyarakat awam ?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cWaktu yang akan membuktikannya\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cMaksudnya ?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cKebenaran tidak akan lekang dimakan waktu.&nbsp; Kini kita bisa melihat, pendapat sejumlah ulama atau ilmuwan dalam bidang apapun, kemudian bisa dibuktikan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, termasuk di bidang sain dan teknologi, yang banyak menyingkap hal-hal yang dulu dianggap gaib.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cMaksudnya, gaib itu karena kita belum mengetahuinya atau belum memiliki ilmu tentang sesuatu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cTidak juga, pendapat saya; &nbsp;ada gaib yang mutlak dan ada gaib yang relatif\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cApa yang saudara masukkan kedalam kategori gaib relatif?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cSemua hal yang menjadi bagian dari Sunnatullah, baik yang bersifat fisik seperti antariksa, dunia hewan, tumbuhan, dan hal-hal terkait dengan fisik manusia. Termasuk juga dalam hal ini yang termasuk kategori non-fisik seperti ilmu sosial dan phsykologi\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cLalu yang gaib mutlak ?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca juga :<\/strong><\/p>\n\n\n<ul class=\"wp-block-latest-posts__list is-grid columns-3 wp-block-latest-posts\"><li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/2026\/05\/08\/kejurnas-bolavoli-indoor-antarklub-ku-18-2026-o2c-ajaib-wahana-di-final-putri-atlas-patriot-final-putra\/olahraga\/15710\/\">Kejurnas Bolavoli Indoor Antarklub KU-18 2026: O2C &#8211; Ajaib Wahana di Final Putri, Atlas &#8211; Patriot Final Putra<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/2026\/05\/03\/jelang-avc-mens-champions-league-2026-di-pontianak-bhayangkara-presisi-siapkan-dream-team-dunia\/olahraga\/15707\/\">Jelang AVC Men&#8217;s Champions League 2026 di Pontianak, Bhayangkara Presisi Siapkan &#8220;Dream Team&#8221; Dunia<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/2026\/04\/25\/lavani-juara-proliga-2026-usai-kalahkan-bhayangkara-di-leg-kedua\/olahraga\/15703\/\">LavAni\u00a0 Juara Proliga 2026, Usai Kalahkan Bhayangkara di Leg Kedua<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/2026\/04\/25\/jpe-pertahankan-gelar-juara-proliga\/olahraga\/15700\/\">JPE Pertahankan Gelar Juara Proliga<\/a><\/li>\n<li><a class=\"wp-block-latest-posts__post-title\" href=\"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/2026\/04\/24\/grand-final-proliga-2026-lavani-tundukkan-bhayangkara-presisi-di-leg-1\/olahraga\/15697\/\">Grand Final Proliga 2026: LavAni Tundukkan Bhayangkara Presisi di Leg 1<\/a><\/li>\n<\/ul>\n\n\n<p>R: \u201cSeperti masalah Ruh, masalah hidup sesudah mati, dan alam akhirat, sebagaimana telah ditegaskan Allah dalam Al Qur\u2019an.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cLalu bagaimana, menjelaskan tentang Mukzizat?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cAda hukum Allah yang disebut dengan Sunnatullah yang berlaku bagi semua orang, di semua tempat, dan di semua waktu. Tentu pengertian tempat di sini di Bumi, kalau di ruang angkasa atau di luar bumi tentu memiliki Sunatullahnya sendiri. Akan tetapi, Allah punya hak prerogatif untuk intervensi. Intervensi inilah yang disebut mukjizat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cKalau Mukzijat hanya turun kepada para nabi, mungkinkah intervensi Allah juga datang kepada manusia seperti kita.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cMungkin saja, disinilah pentingnya doa. Tetapi doaa saja tidak cukup, karena Allah mengingatkan doa yang dikabulkan harus didahului dengan ikhtiar yang maksimal.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cApakah tertinggalnya dunia Islam dibanding Barat, &nbsp;sebagaimana yang disimpulkan oleh sejumlah ulama karena kemenangan Al Ghazali atas Ibnu Shina dan Ibnu Rush?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cDalam perdebatan itu tidak ada yang menang dan kalah, sebagaimana saya sebutkan sebelumnya, bahwa pengetahuan mereka saling melengkapi. Akan tetapi, harus diakuti pengikut Al Ghazali di dunia Islam semakin lama semakin besar, sedangkan pengikut Ibnu Rush dan Ibnu Shina semakin kecil. Padahal di Barat pengikut Ibnu Shina dan Ibnu Rush terus berkembang sampai sekarang. Sebetulnya kelompok Liberal dan Sekuler di Barat saat ini, secara substantial merupakan pengikut Ibnu Shina dan Ibnu Rush.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cJadi rahasia ketertinggalan kita karena kita mengikuti Al Ghazali, bukan Ibnu Shina dan Ibnu Rush?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cKita harus hati-hati dalam menyimpulkan, karena masalahnya tidak sederhana. Yang bisa saya katakana adalah bisa jadi kebanyakan kita keliru memahami pandangan Al Ghazali, kita hanya fokus pada aspek tertentu dari pemikirannya dan abai pada aspek lainnya. Kedua, bisa jadi memang tuntutan keadaan waktu itu, lebih cocok pandangan Alghazali.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cBagaimana kalau sekarang kita kembali menghidupkan pandangan Ibnu Shina dan Ibnu Rush di Dunia Islam?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cKalau kita mau mengejar Amerika, Rushia, China, Jepang, dan sejumlah negara yang maju dalam sain, teknologi, ekonomi, politik, dan militer, maka kita tidak punya pilihan lain. Akan tetapi kalau kita mau mengejar ketentraman bathin dan kebahagian spiritual secara personal, maka lebih cocok mengikuti Al Ghazali.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cKalau misalnya saya harus membuat rekomendasi kepada pemerintah, apakah kebijakan pemerintah saat ini harus diarahkan ke mazhab pemikiran Ibnu Shina dan Ibnu Rush?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cApa-apa yang ektrim itu tidak bagus, jadi harus seimbang antara mengejar kebahagiaan lahir dan bathin, antara dunia dan akhirat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: Agak berbelok sedikit, bagaimana dengan merebaknya sufisme dan tarekat di dunia Islam pasca Al Ghazali?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cIni sebenarnya kelanjutan atau implikasi dari pandangan spiritual Al Ghazali.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cBagaimana dengan ulama yang menganggap tarekat itu bid\u2019ah?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cTidak perlu membid\u2019ah-bid\u2019ahkan, apa lagi mengharamkannya. Kecuali kalau mengubah syarat dan rukunnya shalat, atau mengubah aturan zakat yang sudah jelas tuntunannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cBagaimana penjelasannya, agar masyarakat awam memahaminya?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cBegini! Ada orang yang mengejar dunia habis-habisan, setelah jabatan didapat, harta terkumpul, ia tidak menemukan kebahagiaan yang ia cari, jadi Ibarat matamorgana. Ada orang yang karena faktor-faktor lahiriah yang objektif kemudian memiliki keterbatasan untuk mengejar dunia, lalu memutuskan mengambil jalan pintas dengan mengikuti tarekat untuk mendapatkan kebahagiaan spiritual, kan tidak boleh dilarang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cApakah boleh saya mengaitkan sikap seimbang ini dengan perintah Allah dalam Al Qur\u2019an dan Hadits Nabi, yang mendorong Ummat Islam agar memilih jalan tengah \u201cWasathan\u201d dalam istilah Arabnya ?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cTentu ! Karena dibalik perintah itu, ada janji Allah untuk menjadikan ummat Islam sebagai Ummat yang unggul jika mengikuti perintahnya. Jadi sikap moderat, toleran, dan melindungi ummat lain apapun suku, bangsa, dan agamnya, bukan saja membuat kita akan menjadi ummat yang unggul, prinsip ini terkait juga dengan janji Allah untuk menjadikan ummat Islam sebagai <em>Rahmatanlilalamin<\/em>. Sikap moderat dan toleran serta inklusif juga bisa menjadi indikasi rasa percaya diri, sementara sikap intoleran dan eksklusif sebagai indikasi inferior atau tidak percaya diri\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cDengan Bahasa yang popular, bisakah Kau jelaskan makna kata <em>Rahmatanlilalamin <\/em>dalam Al Qur\u2019an?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201c<em>Rahmatinlilalamin<\/em>, maksudnya adalah Ummat Islam yang seyogyanya membawa kebaikan bagi alam semesta, bukan saja terhadap sesama ummat manusia, apapun suku atau rasnya, dan apapun agamnya, juga hewan, tumbuhan, daratan, lautan dan udara, secara keseluruhan.<\/p>\n\n\n\n<p>A: \u201cIslam wasatiyah, Islam Tengah, yang moderat dan toleran, sering dikaitkan dengan sikap lemah atau kalahan, bagaimana pendapatmu?\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>R: \u201cJustru sebaliknya, merupakan sikap unggul sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dan Khalifahurasyidin. Sikap ini menunjukkan sikap percaya diri atas keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut, bukan sikap ektrim atau emosional yang menggambarkan inferioritas dalam menghadap komunitas lain.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>(Bersambung)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gagasanku untuk mengembangkan Diaspora Muslim Indonesia (DMI), mulai mendapatkan sambutan dari berbagai diaspora Indonesia, terutama yang berada di Eropa dan<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1850,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[55],"tags":[],"aioseo_notices":[],"views":22,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1849"}],"collection":[{"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1849"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1849\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1852,"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1849\/revisions\/1852"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1850"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1849"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1849"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jakcitynews.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1849"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}