Belajar dari Habibie: Komisi X Ingatkan Nasionalisme Tak Cuma Diukur dari Domisili

Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih (Foto : DPR)

JakCityNews (Jakarta) – Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendesak pemerintah untuk mengevaluasi skema pengabdian penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Fikri menekankan bahwa penyediaan ekosistem riset yang memadai di dalam negeri jauh lebih krusial dibandingkan sekadar menuntut kepulangan fisik para lulusan secara kaku.

Pernyataan ini merespons polemik banyaknya diaspora yang enggan kembali ke tanah air akibat minimnya fasilitas pendukung keahlian di Indonesia. Menurut Fikri, nasionalisme tidak boleh diukur hanya dari domisili, melainkan dari kontribusi nyata dan jaringan ilmu pengetahuan yang dibangun untuk bangsa.

“Jangan sampai kita hanya menuntut mereka pulang, tapi di sini mereka justru ‘mati’ secara keilmuan karena laboratorium tidak ada dan ekosistem risetnya tidak mendukung. Kita harus menyediakan ‘rumah’ yang layak bagi mereka untuk berkarya,” tegas Fikri dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Politisi Fraksi PKS ini merujuk pada kisah sukses BJ Habibie, yang bersedia pulang karena negara memberikan panggung nyata berupa industri strategis. Ia memperingatkan bahwa tanpa sarana prasarana yang mumpuni, talenta terbaik Indonesia—terutama di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)—akan terus terserap oleh industri luar negeri yang lebih menghargai keahlian mereka.

Lebih lanjut, doktor ilmu lingkungan dari UNDIP ini mengusulkan pergeseran konsep dari brain drain (kehilangan talenta) menjadi brain circulation. Dalam konsep ini, diaspora yang tetap berada di luar negeri tetap dianggap mengabdi selama mereka berperan sebagai jembatan teknologi dan riset bagi institusi di dalam negeri.

Fikri juga menyoroti pentingnya sinkronisasi kebijakan untuk menghapus hambatan karier bagi para lulusan terbaik tersebut.

“Pemerintah perlu memperbaiki koordinasi antar-kementerian agar lulusan terbaik ini tidak membentur tembok birokrasi saat ingin berkontribusi. Jangan biarkan mutiara-mutiara kita hanya bersinar di negeri orang karena kita gagal menyiapkan tempat bagi mereka di rumah sendiri,” katanya.(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.